Posted by: nandito106 | January 3, 2015

Penglihatan Nyamuk

Nyamuk, hewan kecil itu memang nakal karena selalu mengganggu manusia yang terlelap tidur di malam hari. Namun adakah yang pernah berpikir bahwa ternyata seekor makhluk kecil yang seringkali merepotkan manusia itu merupakan suatu contoh akan kesempurnaan desain dalam penciptaan?

Sejak ia bertelur, nyamuk sudah menunjukkan kehebatannya. Dia dengan sendirinya bertelur dalam jumlah ratusan butir yang kesemuanya menyatu hingga menyerupai bentuk sampan. Sampan, karena memang telur tersebut diletakkan di atas permukaan air dan harus dapat mengapung. Seandainya ia bertelur satu persatu, tentunya telur itu akan tenggelam oleh riak air yang kecil sekalipun.

mosquito_65147_7

Tentu kita semua tahu, sang nyamuk mengawali kehidupannya dengan hidup di bawah permukaan air. Untuk bernapas ia menggunakan alat menyerupai pipa “snorkel” (biasa digunakan penyelam) yang berada di ujung tubuhnya. Dengan demikian ia dapat menghirup udara di atas permukaan air dan terus melangsungkan siklus hidupnya. Namun tantangan yang dihadapi belum berhenti. Untuk keluar dari air lalu terbang, juga memerlukan usaha yang tidak mudah, karena bila saja tubuhnya basah, maka ia tidak akan dapat terbang! Bayangkan, ternyata di ujung kakinya terdapat suatu senyawa kimia yang mampu meningkatkan tegangan permukaan air. Sehingga ketika keluar dari kepompongnya dan berdiri di atas permukaan air dengan kaki-kakinya, ia tidak terperosok dan tidak tenggelam.

Tidak sampai di situ. Agar nyamuk betina dapat menghisap darah, ia harus mampu mengenali lokasi pembuluh darah manusia di kegelapan malam. Untuk ini ia telah dilengkapi dengan sistem pengindraan inframerah yang mampu menemukan lokasi pembuluh darah berdasarkan suhu tubuh.

BAGAIMANA NYAMUK MENGINDRA DUNIA LUAR?
Nyamuk dilengkapi alat pengindra panas teramat peka. Nyamuk mampu mengindra benda-benda di sekelilingnya dalam berbagai warna yang ditentukan oleh panas yang dipancarkan benda-benda, sebagaimana tampak pada gambar. Karena penglihatannya tidak bergantung pada adanya cahaya, nyamuk sangat mudah menemukan pembuluh darah di kegelapan. Alat pengindra panasnya cukup peka untuk mengenali perbedaan panas sekecil seperseribu derajat Celcius. Sebagai pembanding, gambar di kiri bawah adalah penglihatan manusia.

Untuk bisa menembus kulit manusia sehingga mudah dalam menyedot darahnya, ia juga memiliki organ khusus yang disiapkan oleh Penciptanya. Organ itu berfungsi layaknya gergaji yang menggergaji kulit kita sehingga sobek. Sebab kulit manusia bagaikan kulit kayu yang tebal dan keras bagi nyamuk, hewan berukuran teramat kecil dibanding tubuh manusia. Juga, agar darah yang keluar tidak membeku, maka nyamuk juga telah menggunakan suatu enzim yang mencegah pembekuan darah.

Perhatikan, walau si kecil nyamuk tampak demikian jenius, namun ia tetaplah seekor nyamuk yang tak dapat berpikir untuk memperbaiki kualitas hidup. Ia tetaplah bukan profesor kimia maupun fisika atau bahkan dokter spesialis tranfusi darah sebelum ia dapat melakukan “tugasnya” keluar dari air untuk terbang dan menghisap darah manusia. Ia tetaplah seekor makhluk kecil yang diciptakan oleh Dzat Yang Maha Pencipta sebagai perumpamaan bagi kita agar mau berpikir

Posted by: nandito106 | January 1, 2015

SISTEM YANG SEMPURNA: PEMBEKUAN DARAH

Peradaban manusia telah berusia ribuan tahun, dan selama itu pula pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi manusia berhasil menyingkap rahasia alam semesta dan menghasilkan berbagai teknologi. Namun, apa yang dihasilkan manusia ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan kehebatan dan kesempurnaan teknologi di alam.

Kekuatan teknologi dan peradaban manusia – yang merupakan simbol kekuatan, kecerdasan, kehebatan dan kedigdayaan mereka – dengan mudah terhempaskan oleh kekuatan alam seperti bencana gunung berapi, banjir, angin tornado, gempa bumi. Bahkan manusia pun mudah dibuat lunglai tak berdaya, bahkan tak bernyawa, akibat serangan organisme yang tampaknya jauh lebih lemah dari dirinya, seperti virus, bakteri, jamur, dan sebagainya.

Demikianlah, ini berarti keberadaan serta keberlangsungan alam  ini beserta seluruh isinya, termasuk tumbuhan, hewan dan manusia itu sendiri, tercipta dengan kecerdasan, kekuatan dan kekuasaan yang jauh lebih hebat dari manusia maupun makhluk lainnya. Inilah kekuasaan dan kekuatan Pencipta dalam mencipta dan berkehendak atas segala sesuatu, yang tak dapat dihadang oleh siapa pun, termasuk manusia itu sendiri. Seluruh seluk-beluk isi alam ini, termasuk tubuh manusia sendiri, telah dirancang dengan sengaja dan secara sempurna. Satu bagian kecil saja dari keseluruhan sistem yang mengatur tubuh manusia ini tidak berfungsi, maka ini akan membahayakan hidupnya. Di antara ratusan, atau bahkan ribuan, sistem yang ada pada tubuh manusia adalah sistem pembekuan darah.

images from : uniqpost.com

Sel Darah Merah

Setiap orang mengetahui bahwa pendarahan pada akhirnya akan berhenti ketika terjadi luka atau terdapat luka lama yang mengeluarkan darah kembali. Saat pendarahan berlangsung, gumpalan darah beku akan segera terbentuk dan mengeras, dan luka pun pulih seketika. Sebuah kejadian yang mungkin tampak sederhana dan biasa saja di mata Anda, tapi tidak bagi para ahli biokimia. Penelitian mereka menunjukkan, peristiwa ini terjadi akibat bekerjanya sebuah sistem yang sangat rumit. Hilangnya satu bagian saja yang membentuk sistem ini, atau kerusakan sekecil apa pun padanya, akan menjadikan keseluruhan proses tidak berfungsi.

Darah harus membeku pada waktu dan tempat yang tepat, dan ketika keadaannya telah pulih seperti sediakala, darah beku tersebut harus lenyap. Sistem ini bekerja tanpa kesalahan sedikit pun hingga bagian-bagiannya yang terkecil.

Jika terjadi pendarahan, pembekuan darah harus segera terjadi demi mencegah kematian. Di samping itu, darah beku tersebut harus menutupi keseluruhan luka, dan yang lebih penting lagi, harus terbentuk tepat hanya pada lapisan paling atas yang menutupi luka. Jika pembekuan darah tidak terjadi pada saat dan tempat yang tepat, maka keseluruhan darah pada makhluk tersebut akan membeku dan berakibat pada kematian.

Keping darah atau trombosit, yang merupakan unsur berukuran paling kecil penyusun sumsum tulang, sangat berperan dalam proses pembekuan darah. Protein bernama faktor Von Willebrand terus-menerus mengalir dan berlalu-lalang ke seluruh penjuru aliran darah. Protein ini berpatroli, dengan kata lain bertugas memastikan bahwa tidak ada luka yang terlewatkan oleh trombosit. Trombosit yang terjerat di tempat terjadinya luka mengeluarkan suatu zat yang dapat mengumpulkan trombosit-trombosit lain di tempat tersebut. Sel-sel trombosit ini kemudian memperkuat luka yang terbuka tersebut. Trombosit lalu mati setelah melakukan tugas menemukan tempat luka. Pengorbanannya hanyalah satu bagian dari keseluruhan sistem pembekuan dalam darah.

Trombin adalah protein lain yang membantu pembekuan darah. Zat ini dihasilkan hanya di tempat yang terluka, dan dalam jumlah yang tidak boleh lebih atau kurang dari keperluan. Selain itu, produksi trombin harus dimulai dan berakhir tepat pada saat yang diperlukan. Dalam tubuh terdapat lebih dari dua puluh zat kimia yang disebut enzim yang berperan dalam pembentukan trombin. Enzim ini dapat merangsang ataupun bekerja sebaliknya, yakni menghambat pembentukan trombin. Proses ini terjadi melalui pengawasan yang cukup ketat sehingga trombin hanya terbentuk saat benar-benar terjadi luka pada jaringan tubuh. Segera setelah enzim-enzim pembantu proses pembekuan darah tersebut mencapai jumlah yang cukup, kumpulan protein yang disebut fibrinogen terbentuk. Dalam waktu singkat, terbentuklah benang-benang yang saling bertautan, saling beranyaman dan membentuk jaring pada tempat keluarnya darah. Sementara itu, trombosit atau keping-keping darah yang sedang berpatroli tanpa henti, terperangkap dalam jaring dan mengumpul di tempat yang sama. Apa yang disebut dengan gumpalan darah beku adalah penyumbat luka yang terbentuk akibat berkumpulnya keping darah yang terperangkap ini. Ketika luka telah sembuh sama sekali, gumpalan tersebut akan hilang.

cats proses-pembekuan-darah4312pembekuan darah

MEKANISME PENUTUPAN LUKA:
Ketika luka pada tubuh mulai mengeluarkan darah, sebuah enzime yang disebut tromboplastin yang dihasilkan sel-sel jaringan yang terluka bereaksi dengan kalsium dan protrombin di dalam darah. Akibat reaksi kimia, jalinan benang-benang yang dihasilkan membentuk lapisan pelindung, yang kemudian mengeras. Lapisan sel-sel paling atas akhirnya mati, dan mengalami penandukan sehingga membentuk keropeng. Di bawah keropeng ini, atau lapisan pelindung, sel-sel baru sedang dibentuk. Ketika sel-sel yang rusak telah selesai diperbaharui, keropeng tersebut akan mengelupas dan jatuh

Sistem yang memungkinkan pembentukan darah beku, yang mampu menentukan sejauh mana proses pembekuan harus terjadi, dan yang dapat memperkuat serta melarutkan gumpalan darah beku yang telah terbentuk, sudah pasti memiliki kerumitan luar biasa yang tak mungkin dapat disederhanakan. Sistem tersebut bekerja tanpa kesalahan sekecil apa pun bahkan hingga pada bagian-bagiannya yang terkecil sekalipun.

Apa yang terjadi ketika terjadi sedikit gangguan pada sistem pembekuan darah yang bekerja secara sempurna ini? Misalnya, jika terjadi pembekuan dalam darah meskipun tidak terjadi luka, atau seandainya gumpalan darah beku tersebut mudah terlepas dari luka, apa yang akan terjadi? Hanya ada satu jawaban atas pertanyaan ini: dalam keadaan demikian, aliran darah ke organ-organ tubuh yang paling penting dan peka terhadap kerusakan, seperti jantung, otak dan paru-paru, akan tersumbat oleh gumpalan darah beku, dan kematian pun tak terelakkan.

Ini adalah kenyataan yang menunjukkan kepada kita sekali lagi bahwa tubuh manusia didesain dengan sempurna tanpa cacat. Sungguh mustahil menjelaskan sistem pembekuan darah dengan menganggapnya sebagai peristiwa kebetulan atau “perkembangan bertahap” sebagaimana pernyataan teori evolusi. Sistem yang dirancang dan diperhitungkan dengan hati-hati seperti ini adalah bukti kesempurnaan dalam penciptaan yang tak perlu diperdebatkan lagi. Allah, yang telah menciptakan dan menempatkan kita di bumi, telah menciptakan tubuh kita beserta sistem pembekuan darah yang melindungi kita dari banyak peristiwa luka yang kita alami sepanjang hidup.

Selain mengatasi luka yang dapat terlihat, pembekuan darah juga sangat diperlukan untuk memulihkan kerusakan pada pembuluh darah kapiler dalam tubuh kita yang terjadi setiap saat. Meski tidak terlihat, terdapat pendarahan kecil di dalam tubuh secara terus-menerus. Ketika membenturkan lengan pada pintu atau duduk hingga kepayahan, ratusan pembuluh darah kapiler pecah. Pendarahan yang kemudian terjadi segera diatasi oleh sistem pembekuan darah, dan pembuluh kapiler dibentuk kembali seperti sedia kala. Jika benturan lebih keras terjadi, maka akan terjadi pendarahan yang lebih parah dalam tubuh dan menimbulkan luka memar yang umumnya disebut “turning purple” atau “berubah menjadi ungu”. Seseorang yang sistem pembekuan darahnya tidak berfungsi dengan baik, misalnya pada penderita hemofilia, harus menghindari benturan sekecil apa pun. Penderita dengan hemofilia sangat parah tidak mampu hidup lama. Sebab, pendarahan kecil saja, misalnya akibat terpeleset dan jatuh, sudah cukup untuk mengakhiri hidupnya.

Posted by: nandito106 | December 31, 2014

DI BALIK KOKOHNYA GUNUNG

Ketika berbicara tentang gunung, banyak hal akan terlintas dalam benak kita, di antaranya gunung api yang meletus dengan dahsyatnya. Kekuatan letusan gunung berapi mampu menimbulkan gempa hebat, gelombang tsunami, maupun muntahan lahar yang meluluhlantakkan apa pun yang diterpanya.

Namun, apakah ini berarti bahwa ketiadaan gunung akan menghilangkan bencana alam yang kerap kali menelan korban jiwa ini, dan menjadikannya lebih aman untuk dihuni? Fakta menunjukkan sebaliknya. Bumi yang rata akibat ketiadaan gunung ternyata justru akan menghancurkan segala yang ada.

Kerak bumi adalah lapisan permukaan tempat kita sehari-hari berjalan dan membangun rumah dengan aman. Tetapi, kerak bumi ternyata tidak diam alias bergerak di atas suatu lapisan lain yang dinamakan mantle (jaket), yang lebih padat dari kerak bumi. Jika tidak ada perangkat yang mengendalikan pergerakan kerak bumi ini, maka goncangan dan gempa terus-menerus akan terjadi di bumi, yang tentu menjadikannya tempat yang benar-benar tak dapat dihuni. Namun, keberadaan gunung-gunung dan struktur perpanjangannya yang menghujam jauh ke dalam bumi berperan besar mengurangi pergerakan lapisan di bawah permukaan tanah, sehingga mencegah atau memperkecil goncangan yang diakibatkannya.

Gunung-gunung di bumi terbentuk akibat pergerakan dan tubrukan antar-lempengan raksasa yang membentuk lapisan kerak bumi (lihat gambar). Ketika dua lempengan saling bertubrukan, salah satunya biasanya akan menerobos di bawah lempengan yang kedua. Lempengan kedua yang berada bagian atas terdorong ke atas sehingga membentuk punggung gunung. Pada saat bersamaan, lempengan yang berada di bawah terus menembus, menghujam ke bawah, dan membentuk perpanjangan yang jauh ke dalam bumi. Ini berarti gunung memiliki semacam akar berupa perpanjangan yang menancap dan menghujam ke dalam bumi. Bagian ini sama besarnya dengan punggung gunung yang tampak menjulang tinggi di atas permukaan bumi. Dengan kata lain, gunung tertancap dan mengakar kokoh pada bagian kerak bumi yang disebut mantle (jaket).

Jadi, gunung mencengkeram lempengan-lempengan bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi. Dengan demikian gunung menembus dan menancap pada tempat bertemunya lempengan-lempengan tersebut. Dengan cara ini, gunung mencegah kerak bumi bergerak atau bergeser secara terus-menerus di atas lapisan magma atau di antara lapisan-lapisannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung sebagaimana paku atau pasak yang menancap dan mencengkeram lembaran-lembaran papan kayu dengan erat dan kokoh. Kerak bumi yang bersifat mudah bergerak ini diredam oleh gunung, sehingga mampu mencegah guncangan hingga batas tertentu.

proses terjadinya gunung

                 proses terjadinya gunung

Gunung yang tampak kokoh perkasa juga memiliki peran lain dalam menjaga keseimbangan di bumi, terutama dalam penyebaran panas. Perbedaan suhu antara khatulistiwa dan wilayah kutub bumi adalah sekitar 100 derajat Celcius. Jika perbedaan suhu tersebut terjadi di permukaan bumi yang rata, maka ini akan memunculkan aliran udara berupa badai angin sangat kencang berkecepatan hingga 1000 km (621 mil) per jam yang akan menghancurkan bumi. Namun, permukaan bumi yang tidak rata mampu menahan aliran angin kencang yang dimunculkan oleh perbedaan suhu ini. Jajaran pegunungan bermula dengan gunung Himalaya di Cina, yang berlanjut dengan gunung Taurus di selatan Turki, dan kemudian naik ke atas hingga jajaran pegunungan Alpina di Eropa. Jajaran pegunungan Atlantik dan Samudera Pasifik juga memiliki fungsi yang sama.

Sebagaimana seluk-beluk dan bagian bumi yang lain, apa yang ada pada gunung merupakan bagian dari kekuatan, kehebatan dan kesempurnaan ciptaan Allah. Allah telah menciptakan bumi beserta seluruh seluk-beluknya dengan sempurna sebagai tempat hidup kita.

Setelah mengetahui sejumlah hal yang mengagumkan ini, manusia sepatutnya sadar dan mengakui bahwa hal terpenting dalam hidupnya adalah kewajiban untuk mengabdi kepada Allah, dan beramal untuk tujuan yang satu ini. Sebab, manusia senantiasa bergantung pada nikmat Allah yang tak terhingga, sedangkan Allah, Dia Mahakaya dan tidak memerlukan sesuatu pun. Inilah kebenaran terpenting yang hendaknya didapatkan dan dipahami oleh manusia di balik dahsyatnya kekuatan alam, sebagaimana yang ada pada gunung.

pustaka : by : insight magazine

Pupuk Organik Granul

Satu tahun belakangan ini, pupuk organik mulai ramai diperbincangkan baik itu kalangan petani, masyarakat, maupun pemerintah. Pencanangan Go-Organik pada tahun 2010 adalah inisiasi munculnya gerakan kesadaran masyarakat dan pemerintah akan pentingnya kesehatan dan pelestarian alam dengan menggunakan organik pada tanaman. Bahan-bahan organik ini banyak disebut sebagai kompos atau kalangan petani lebih mengenalnya sebagai pupuk organik.

Dalam Permentan No.2/Pert/Hk.060/2/2006, Pupuk organik merupakan pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Definisi tersebut menunjukkan bahwa pupuk organik lebih ditujukan kepada kandungan C-organik atau bahan organik daripada kadar haranya; nilai C-organik itulah yang menjadi pembeda dengan pupuk anorganik. Bila C-organik rendah dan tidak masuk dalam ketentuan pupuk organik maka diklasifikasikan sebagai pembenah tanah organik. Pembenah tanah atau soil ameliorant menurut SK Mentan adalah bahan-bahan sintesis atau alami, organik atau mineral. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota.

Selain pupuk organik, dikenal juga pupuk hayati, Istilah pupuk hayati digunakan sebagai nama kolektif untuk semua kelompok fungsional mikroba tanah yang dapat berfungsi sebagai penyedia hara dalam tanah, sehingga dapat tersedia bagi tanaman. Mikroba tanah ini dapat berupa   dari kalangan bakteri, aktinomiset, dan jamur yang berperan sebagai organisme yang berfungsi untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara dalam tanah bagi tanaman. Memfasilitasi tersedianya hara ini dapat berlangsung melalui peningkatan akses tanaman terhadap hara misalnya oleh cendawan mikoriza arbuskuler, pelarutan oleh mikroba pelarut fosfat, maupun perombakan oleh fungi, aktinomiset atau cacing tanah. Penyediaan hara ini berlangsung melalui hubungan simbiotis atau nonsimbiotis.

                Setelah saya meninjau di lapangan, ternyata pupuk organik di pasaran beranekaragam baik itu dari  jenis, bentuk, dan bahan bakunya. Pada umumnya pupuk organik berbentuk padatan berupa granular atau serbuk, sedangkan pupuk hayati pada umumnya berbentuk cair. Bahan baku pupuk padatan yang paling umum dijumpai di pasaran adalah bahan baku dari kotoran sapi yang sudah di komposkan, hal ini dikarenakan bahan bakunya yang masih relatif mudah didapatkan.

                Pupuk organik padat akan sangat baik jika dikombinasikan dengan pupuk hayati yang berbentuk cair, karena kita tidak hanya mensuplai bahan baku organik tetapi juga menyediakan organisme fungsional yang nantinya bisa berguna pada proses aplikasinya. Kombinasi ini akan sangat baik lagi jika pada proses pembuatannya juga diperhatikan. Pada umumnya produsen pupuk organik padatan skala besar (pabrikan) memproduksi pupuk organik dengan proses pemanasan (dyer) pada proses pengeringan pupuk dengan suhu yang cukup tinggi. Pada dasarnya dengan asumsi pemanasan yang tinggi, maka mikroorganisme patogen dan gulma di dalam pupuk akan mati, tapi satu hal yang perlu diperhatikan bahwa dapat dipastikan mikroorganisme yang menguntungkan juga akan mati. Oleh sebab itu pengaturan suhu sangat diperlukan pada saat proses granulasi dan dryer untuk menjaga mikroba yang menguntungkan tidak mati. Selain itu kadar air pupuk perlu dijaga agar pada saat pengemasan dan penumpukan pupuk tidak hancur atau lengket. Meski pada dasarnya semakin besar kadar air suatu pupuk akan semakin baik, karena mikroorganisme di dalamnya dapat hidup dengan baik, namun jika kita melihat secara komersil, bentuknya sangat tidak aplikatif.

Posted by: nandito106 | April 12, 2011

TAHUN 2010 Ke depan : Perjuangan menuju era organik

Pertanian Organik

Tempo dulu, sebelum kemunculan produk-produk ‘industrian’ para petani di Indonesia bercocok tanam dengan menggunakan bahan-bahan alam atau dengan kata lain petani telah mengenal keselarasan bertani dengan alam dan hebatnya lagi petani pada saat itu sudah pula mengerti konsep intergrasi terpadu antara usaha tani dengan usaha ternak. Hal ini menunjukkan suatu usaha tani yang berusaha meminimalisasi upaya eksploitasi berlebihan terhadap alam.

Namun pada saat itu pertumbuhan jumlah penduduk tidak sebanding dengan produktivitas pangan, seperti prediksi Robert Malthus bahwa pertumbuhan jumlah penduduk seperti deret hitung, sedangkan pertumbuhan jumlah produksi makanan seperti deret ukur. Sehingga pada tahun 70 an pemerintah mencanangkan revolusi hijau, maka muncullah produk yang namanya pupuk kimia, pestisida kimia, benih hibrida, dan ‘mesin-mesin’ usaha tani yang lain hingga terciptalah konsep intensifikasi pertanian. Mulai dari itu, usahatani dilakukan dengan input tinggi dan teknologi yang teruas dikembangkan. Swasembada beras tahun 1984 merupakan bukti keberhasilan Indonesia di sektor pertanian kala itu.

Akan tetapi, kurangnya pengawasan dan adanya penyimpangan konsistensi upaya peningkatan produksi ke arah peningkatan komersialitas semua input pertanian, ternyata memunculkan berbagai persoalan baru saat ini. Proses eksploitasi lahan pertanian tanpa ada usaha pengembalian bahan organik tanah akibat penggunaan bahan kimia yang tidak diimbangi dengan usaha pengembalian bahan organik. Persoalan lain adalah munculnya ketergantungan petani terhadap berbagai saprodi alat dan bahan pertanian yang siap saji. Sungguh ironis Betapa sebagian besar petani kita sudah beranggapan bahwa “tanpa pupuk kimia tidak ada usahatani”.

Sampai permasalahan menjadi lebih rumit ketika kita dihadapkan pula pada fakta-fakta lain yang tak kalah hebat. Pencemaran lingkungan akibat residu pupuk kimia dan pestisida, pencemaran hasil usahatani akibat residu pestisida, penurunan populasi predator, peledakan OPT yang menjadi resisten, pengerasan tanah, peledakan gulma air (kiambang, eceng gondok, dan sejenisnya) yang mengancam populasi ikan. Yang paling ditakutkan adalah pencemaran-pencemaran tersebut bisa berdampak pada manusia.

Apa juga yang terjadi seiring tahun demi tahun, produksi panen menjadi menurun, indonesia kini jadi negara pengimpor beras. Hal ini dikarenakan tidak lain adalah karena kondisi lahan pertanian kita yang semakin memprihatinkan karena akibat pengolahan lahan secara intensif tanpa memperhatikan kelestarian dan kesehatan tanah, tanpa adanya usaha pengembalian bahan organik tanah tersebut. Dengan kata lain lahan pertanian kita menjadi SAKIT. Lahan sakit, tanaman sakit, manusia nya juga bisa ikut sakit.

Solusi kedepan untuk bagi kita para petani untuk mencoba sadar bahwa kondisi lahan pertanian kita yang sudah menurun, maka mari kita mencoba sadar untuk memperbaiki tanah dengan menggunakan bahan organik. Lahan pertanian yang kini sakit, membutuhkan pemulihan dan perbaikan dengan menggunakan bahan organik sebagai bahan pembenah dan pemyubur tanah baik itu secara fisik, kimia, maupun biologis tanah. Selain itu dengan prinsip pertanian yang berkesinambungan, pemakaian bahan kimia yang terkendali dan sesuai dengan prinsip pertanian yang berselaras dengan alam, tidak menutup kemungkinan bahwa pertanian di negara ini akan pulih dan menuju puncaknya kembali.

Posted by: nandito106 | April 11, 2011

Fenomena ULAT BULU = kehancuran ekosistem ?

Ulat Bulu serang Jatim

(image source : http://www.wartanews.com)

Menarik sekali beberapa daerah di jawa timur tepatnya di Probolinggo dimana 7 kecamatan terserang hama ulat bulu yakni kecamatan Sumber Ulu, Leces, Kedawung, Pondok Hulu, Tegasan, Malasan, dan Kerpangan diresahkan oleh serangan ribuan ulat bulu yang terjatuh dari pohon. Fenomena yang sungguh aneh ribuan ulat bulu berkembang di saat yang bersamaan, banyak masyarakat awam kebingungan untuk mengatasi serangan hama ulat bulu ini. Salah satu upaya masyarakat mengatasi serangan hama ini adalah dengan menggunakan penyemprotan insektisida dan secara manual dengan memotong daun di pohon dan membakarnya bersama ulat bulu. Sebenarnya ada apa dibalik fenomena ini, banyak ahli berpendapat hal ini dikarenakan perubahan cuaca yang tak menentu, perburuan predator alaminya yaitu burung pemakan ulat, selain itu juga dikarenakan oleh penggunaan pestisida yang berlebihan sehingga hama menjadi kebal.

Jika saya melihat fenomena ini, ada hal menarik yang mungkin bisa dilihat, ulat bulu berkembang dari telur kupu-kupu yang berkembang menjadi ulat dan selanjutnya menjadi kepompong dan akhirnya berubah menjadi kupu-kupu. Tapi ini tidak wajar, bagaimana bisa telur-telur sampai menetas menjadi begitu banyak ulat bulu. Apakah faktor seleksi alam telur-telur itu sudah tidak berlaku lagi?  Jika kita melihat faktor seleksi maka kita dapat predator alami untuk telur dan ulat, semut atau mungkin sejenis burung pemangsa ulat, dimana mereka? Yang jelas ada masalah dalam keseimbangan rantai makanan diantara proses kehidupan kupu-kupu. Kalau kita pikir, kupu-kupu jarang sekali meletakkan telurnya di areal pertanian warga, terutama areal persawahan, jika karena kebal, mengapa yang terjadi adalah ulat kupu-kupu, bukan serangga pengganggu tanaman yang lebih umum menjadi musuh utama petani seperti wereng, belalang, tungau, dll.

Idealnya dimanakah kupu-kupu hidup?, tidak lain adalah di daerah hutan, dimana mereka bisa meletakkan telur-telurnya yang nantinya akan terseleksi secara alami di alam, mungkin oleh burung pemangsa atau beberapa predator bagi telur dan ulat. Wajarkah ulat bulu tiba-tiba muncul dengan jumlah yang tidak wajar berada di perkampungan warga?. Sungguh habitat yang tidak seharusnya untuk kupu-kupu. Ada masalah dimana, hutan-hutan terutama di daerah Jawa mulai terkikis, penebangan hutan yang tak terkontrol menyebabkan beberapa habitat hewan endemik harus kehilangan tempatnya. Kemungkinan kupu-kupu bermigrasi dan berkembang biak di daerah lain yang menurutnya cocok untuk berkembang biak melanjutkan hidup. Mungkin kita tidak sadar dengan adanya penebangan hutan, baik itu secara ilegal maupun tidak, salah satu bagian dari kehidupan dari hutan juga terkikis. Kita harus memikirkan dampak tidak hanya terhadap kondisi cuaca atau iklim atau kondisi tanah akibat penebangan hutan sebagai penghasil oksigen, tetapi juga harus memikirkan kehidupan organisme yang ada didalamnya karena mereka juga bagian dari keseimbangan itu seindiri.

Kupu-kupu berpindah dari habitat alaminya hutuan menuju daerah pepohonan di perkampungan warga, di cuaca yang memang tidak menentu, di saat waktu yang memang cocok bagi kupu-kupu untuk berkembang biak dan membentuk komunitas baru. Faktor seleksi alam menjadi penting, tidak adanya faktor penyeleksi seperti di hutan dan faktor migrasi mungkin adalah penyebab mengapa ulat bulu berkembang begitu pesatnya di Jawa Timur.

Posted by: nandito106 | February 18, 2010

Perilaku Agonistik Ikan Cupang Adu (Betta spendens)

Perilaku agonistik adalah perilaku yang berhubungan dengan konflik, termasuk berkelahi (fighting), melarikan diri (escaping), dan diam (freezing) (Lehner, 1996). Perilaku agonistik meliputi pula beragam ancaman atau perkelahian yang terjadi antar individu dalam suatu populasi (Campbell et al, 2003). Perilaku agonistik berkaitan erat dengan agresivitas, yaitu kecenderungan untuk melakukan serangan atau perkelahian (Scott, 1958). Bentuk-bentuk perilaku tersebut dapat berupa postur tubuh maupun gerakan yang diperlihatkan oleh individu pemenang maupun individu yang kalah dalam kontes perkelahian (Kikkawa & Thorne, 1974).

Perilaku agonistik merupakan salah satu bentuk konflik yang menunjukkan perilaku atau postur tubuh atau penampilan yang khas (display) yang melibatkan mengancam (threat), perkelahian (fighting), melarikan diri (escaping), dan diam (freezing) antarindividu dalam populasi atau antarpopulasi. Invidu yang aggressive dan mampu menguasai arena perkelahian (teritori) akan memunculkan individu yang kuat (dominan) dan lemah (submissive/ subordinat). PopulasiUntuk mengetahui perilaku agonistik ini digunakanlah ikan cupang adu sebagai hewan uji. Cupang adu (Betta splendens) merupakan jenis ikan laga; individu jantan dapat sangat agresiv terhadap jantan lainnya dalam sebuah arena bertarung. Dengan adanya akuarium sebagai media bertarung, maka diharapkan dapat dengan mudah diamati perilaku agonistik diantara ikan cupang jantan.

Ikan cupang adu (Betta spendens) merupakan anggota dari famili Anabantidae. Anabantidae merupakan satu-satunya famili yang mencakup seluruh ikan berlabirin.  Betta splendens memiliki tubuh yang lonjong dengan bagian depan sedikit membulat dan memipih pada bagian belakang. Mulutnya dapat disembulkan dengan lubang mulut terletak serong pada bagian depan kepala. Badan dan kepala bersisik kasar. Ikan betina berwarna kusam, tetapi ikan jantan mempunyai warna metalik yang mengkilat. Ikan cupang jantan maupun betina memiliki sisik gurat sisi berjumlah 29-33 keping (Djuhanda, 1981).

Taksonomi ikan cupang adu (Betta spendens) adalah sebagai berikut :

klasifikasi ikan cupang

Sirip dorsal terletak lebih ke belakang, memiliki jari-jari keras dan 8-9 jari-jari lunak. Sirip anal panjang dan lebar, dimulai dari belakang anus dan berakhir di belakang dekat pangkal sirip kaudal, memiliki 1-4 jari-jari keras dan 21-24 jari-jari lunak. Ujung sirip anal berbentuk lancip. Sirip perut berukuran kecil, terletak di bawah sirip dada, memiliki 1 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak. Satu dari jari-jari lunak berukuran lebih panjang dari yang lainnya. Sirip dada bentuknya membulat, memiliki 12-13 jari-jari lunak (Djuhanda, 1981). Gambar morfologi dari ikan cupang adu adalah sebagai berikut:

Baik secara instinktif maupun perilaku terlatih, B. splendens memiliki karakteristik respons agresiv. Dalam suhu air kira-kira antara 24-29oC, ikan cupang secara normal merupakan ikan yang berperikau sangat aktif. Beberapa perilku agonistic cupang yang diketahui antara lain :

  • Approach (Ap) : mendekat, berenang cepat kemudian berhenti di dekat bayangannya / ikan lain
  • Bite : menggigit lawan
  • Chase (Ch) : mengejar lawan yang melarikan diri
  • Frontal threat (FT) : mengancam dari depan dengan membuka operculum, dagu direndahkan dan melebarkan sirip dada saat berhadapan dengan lawan
  • Side Threat (ST) : mengancam dari pinggir dengan membuka operculum, dagu direndahkan kea rah lawan dan semua sirip dikembangkan
  • Mouth to mouth contact (MC) : Kontak mulut ke mulut yaitu dua individu akan saling mendorong, menarik, dan mencengkram dengan mulut
  • Flight (Fl) : melarikan diri
  • Tail flagging (TF) : mengibaskan ekor
  • Circle (Cl) : bergerak memutar arah setelah mendekati lawan
  • Explore (Ex) : menjelajah area tanpa arah yang jelas

Pustaka:

Kikkawa, J. & M. J. Thorne. 1974. The Behaviour of Animals. John Murray (Publishers) LTD. London.

Djuhanda, T. 1981. Dunia Ikan. Penerbit Armico. Bandung.

Posted by: nandito106 | February 16, 2010

Karakteristik dan Perilaku Planaria sp.

Tingkah laku (behavior) adalah apakah suatu organisme melakukan sesuatu dan bagaimana sesuatu itu dilakukan, meliputi keduanya, komponen gerak dan bukan gerak, dan adalah hasil dari factor gen dan lingkungan. Pada ilmu biologi, proses belajar didefinisikan sebagai modifikasi dari tingkah laku yang dihasilkan dari peoses belajar. Seekor hewan akan mengenali stimulus yang didapatkannya dan mulai merespon stimulus tersebut sebagai suatu keputusan. Keputusan ini dapat berupa negatif berupa menjauhi atau menolak stimulus tersebut, sedangkan keputusan positif berupa mendekati atau menerima stimulus tersebut. (Campbell, et al 2002)

Planaria sp. adalah invertebrata berupa cacing pipih cokelat gelap yang menarik untuk diamati baik morfologi maupun perilakunya. Planaria sp. menunjukkan berbagai perilaku sebagai respon terhadap berbagai macam rangsang yang meliputi cahaya, sentuhan, aroma, dan rasa. Selain itu daya regenerasi Planaria sp. sangat unik, dimana planaria mampu memperbaiki bagian tubuh yang tidak sempurna menjadi bagian yang utuh seperti semula dalam waktu yang relatif singkat.

Planaria dugesia

Planaria merupakan hewan yang hidup bebas dengan habitat yang berbeda-beda, beragam dari perairan yang yang berarus lambat sampai pada perairan danau dan tertutupi oleh bebatuan atau dedaunan. Planaria merupakan organisme yang ideal untuk dipelajari karena kemampuannya untuk belajar yang cukup tinggi. Meskipun ia hanya memiliki system saraf yang sederhana, yakni hanya berupa ganglion-ganglion dan otak ‘primitive’ yang terkonsentrasi pada daerah ujung anterior (kepala) (Levin, 2005). Planaria merupakan pemakan makanan yang beraneka ragam (versatile feeder), ia juga mampu mencari-cari dan memakan bangkai hewan lain yang telah mati. Planaria memiliki tubuh pipih (dorsoventral), bilateral simetri dan tidak bersegmen. tubuh bagian dorsal memiliki auricle (aurikula / berbentuk telinga) dan eyespot (bintik mata), sedangkan tubuh bagian ventral terdapat mulut, pharynk, dan lubang kelamin. Tubuh memiliki peredaran darah, anus, dan coelom. Sedangkan system sarafnya masih sangat sederhana.

planaria dan bagian-bagiannya

Mata planaria disebut dengan eye spot merpakan bintik mata yang sensitif terhadap cahaya matahari  sehingga planaria lebih banyak menghasbiskan banyak waktu di bawah bebatuan atau daun-daun. Pada kepala terdapat bagian yang mirip dengan bentuk telinga  (auricle) dipenuhi oleh banyak reseptor kimia. Menggerakan kepala yang kesatu sisi ke sisi lain sehingga menyebabkan planaria mengetahui atau merasakan adanya sinyal kimia (bau) yang berdifusi dari sumber makanan.

Planaria memiliki kemampuan untuk bereproduksi secara seksual dan aseksual. Reproduksi secara seksual adalah musiman, dan merekan merupakan hermafrodit, yakni memiliki keduanya, organ kelamin jantan dan betina. Telur dari seekor planaria hanya bisa difertilisasi oleh sperma dari yang lainnya. Setelah fertilisasi, di habitat alaminya, telur-telur dan yolk dibungkus oleh lapisan lengket yang bisa melekat dibawah batu-batu. Setelah musim kawin, organ kelamin didegenerasi dan kemudian meregenerasi kembali saat musim kawin tiba kembali. Untuk bereproduksi secara seksual, planaria menjalani proses yang dinamakan pembelahan melintang (transverse fission). Tubuh planaria terbagi menjadi dua fragment di bawah farink dan setiap porsi meregenerasi bagian tubuh yang hilang oleh jalan sel bakal (stem cell) yang dinamakan neoblast (Microsoft Encarta Reference Library, 2004)

pembelahan melintang

Planaria merupakan salah satu anggota dari phylum platyhelminthes dari kelas turbelaria. Spesies yang paling umum dijumpai dari planaria adalah Dugesia dorotocephala, Cura foremani, dan Phagocata velata, Dugesia tigrina dan Phagocata vernalis dan Procotyla fluviatilis.

Posted by: nandito106 | February 15, 2010

Indonesia kehilangan Rp 70 trilliun nilai ekologi hutan lindung

Indonesia akan kehilangan tidak kurang dari Rp 70 trilliun per tahun dari divestasi 925.000 ha nilai ekologi hutan lindung. Hal itu dikarenakan praktek tambang terbuka di hutan lindung Indonesia dengan adanya pengesahan Perpu No.1/2004 tentang perubahan UU No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan. Nilai divestasi sebesar Rp 70 trilliun masih parsial yang terdiri dari nilai jasa ekosistem hutan, keanekaragaman hayati, biaya lingkungan di sekitar hulu dan pemanfaatan hutan lindung secara berkelanjutan oleh masyarakat sekitar serta akumulasi nilai penurunan PDRB dan PAD di 25 kabupaten/kota tersebut.

Kehilangan nilai modal ekologi Rp 70 trilliun per tahun setara dengan hampir 70 kali lipat dari nilai penerimaan sektor tambang terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2003 yang hanya bernilai Rp 1,07 trilliun. Atau lebih besar Rp 25 trilliun dari nilai total secara nasional sumbangan sector pertambangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) 2002 sekitar Rp 45 trilliun. Menurut Siti Maimunah dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) yang termasuk dalam Koalisi Penolakan Alih Fungsi Hutan menjadi Pertambangan (WWF Indonesia, WALHI, Pelangi, Yayasan Kehati, Greenomics Indonesia dan lain-lain), praktek tambang di hutan lindung berdampak dalam bidang ekonomi.

Secara ekonomis pendapatan 25 kabupaten/kota tersebut akan menurun karena nilai ekologis yang mendukung perekonomian hancur. Lebih dari tujuh juta penduduk di mana sekitar 30 persen masih hidup di bawah garis kemiskinan yang selama ini menggantungkan hidupnya terhadap peranan-peranan ekologis dari hutan lindung di wilayah tempat mereka tinggal yang tersebar di 10 propinsi akan terancam.

Sekitar Rp 23,05 trillun per tahun nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di 25 kabupaten/kota tersebut akan menyusut, setidaknya ketika modal ekologi terdivestasi pada tingkat yang signifikan selama 14 tahun ke depan. Nilai Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang hanya sekitar Rp 93 milyar pada tahun 2003 juga akan terdivestasikan, karena praktek tambang terbuka di hutan lindung akan menciptakan perekonomian local serba mahal.

Hal tersebut merupakan konsekwensi logis dari divestasi peranan ekologis hutan lindung yang dimainkan oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) terhadap berbagai kegiatan perekonomian masyarakat seperti pertanian, perikanan, industri dan sebagainya. Sedangkan nilai kayu sebagai perekat kekompakan ekosistem hutan lindung yang harus disingkirkan melalui praktek tambang terbuka bernilai tak kurang dari Rp 27,5 trilliun.

Siti Maimunah mengatakan, Tambang di hutan lindung juga berdampak dalam bidang sosial masyarakat setempat yaitu telah terjadi kriminalisasi rakyat dengan adanya pelanggaran hak karena tidak dikonsultasikan dengan rakyat masalah ganti rugi tidak layak dan dipaksa menyerahkannya.” Selanjutnya dikatakannya bahwa limbah dalam jumlah besar dari 100 ton, 98 ton limbah berupa logam berat sehingga timbul masalah gangguan kesehatan atau kehilangan mata pencaharian. Sedangkan penutupan tambang belum ada peraturan sehingga perusahaan pergi begitu saja setelah selesai beroperasi.

Berkaitan dengan pemulihan setelah adanya dampak pertambangan, Siti Maimunah mengatakan bahwa dari kenyataan pertambangan sebelumnya pemerintah tidak mampu memulihkan dampak-dampak di wilayah bekas pertambangan. Hal-hal mendasar dalam proses pemulihan tidak dilakukan konsultasi dengan rakyat seperti mengenai penutupan tambang, perusahaan meninggalkan rakyat secara permanen dalam kerusakan lingkungan dan kehilangan mata pencaharian.

Sedangkan Untuk bisa memulihkan kondisi kawasan pertambangan seperti semula dibutuhkan waktu dua kali umur pengoperasian pertambangan. Untuk jelasnya, berikut potensi hilangnya nilai ekologi akibat praktek tambang terbuka di hutan lindung seluas 925.000 ha.

Posted by: nandito106 | February 15, 2010

Dengan bar code coba hentikan illegal logging di Indonesia

Kayu-kayu yang berada di toko bahan bangunan, tak lama lagi dapat dilacak asal-usulnya, apakah kayu itu diperoleh secara legal atau ilegal. Kayu-kayu tersebut akan diberi tanda yang disebut bar code. “Namun agak berbeda dengan barang-barang yang biasa dijual di toko swalayan,” jelas Yudi Iskandarsyah, Deputy Program Manager The Nature Conservancy Alliance to promote forest certification and combat illegal logging yang dijumpai beritabui.or.id pertengahan Agustus di Jakarta.

“Bar codes akan menjelaskan kepada konsumen bahwa kayu tersebut telah ditelusur asal-usulnya, berasal dari petak tebangan mana, apakah dengan peralatan yang memenuhi standard keamanan, dan apakah menggunakan sistem pengangkutan yang memenuhi persyaratan,” lanjut Yudi. Sehingga konsumen mendapat kepastian kalau kayu yang dibeli bukan berasal dari praktek illegal logging. The Nature Conservancy (TNC), salah satu organisasi non pemerintah (ornop) internasional yang beroperasi di Indonesia, pertengahan Juli 2004 lalu di Jakarta meluncurkan proyek komputerisasi bar codes untuk melacak kayu-kayu dari hutan alam Indonesia. Tujuan proyek tersebut adalah menghentikan mewabahnya penebangan ilegal di hutan-hutan Indonesia.

Illegal logging tengah mengikis hutan-hutan di Indonesia, ujar Steve McCormik, presiden TNC dalam pernyataan yang disiarkan awal Juli itu. Illegal logging di Indonesia tidak hanya menciutkan luas hutan, tetapi juga ikut merusak lingkungan global, mengancam keberadaan hewan-hewan langka seperti orangutan dan badak, serta mengancam masyarakat lokal yang hidupnya tergantung pada hutan yang sehat. Lebih jauh McCormik menjelaskan, teknologi bar code akan membantu konsumen untuk mendukung perusahaan-perusahaan yang menjalankan bisnisnya dengan benar, dan kemudian membentuk kekuatan pasar yang dapat menekan perusahaan-perusahaan lain untuk segera menghentikan illegal logging.
Mengapa bar codes?

Indonesia termasuk negara yang aktif dan menjadi pionir dalam program sertifikasi hutan, lanjut Yudi. Sebenarnya setelah mengikuti KTT Bumi di Rio 1992, Indonesia sudah mulai mendiskusikan rencana sertifikasi hutan. Namun kegiatan sertifikasi yang telah berjalan lebih dari sepuluh tahun tersebut tidak mudah dilaksanakan dan banyak menemui kendala sehingga berjalan sangat lambat dan hasilnya belum kelihatan.Kendala tersebut, aku Yudi, antara lain banyaknya kebijakan yang tumpang tindih, lemahnya penegakan hukum, korupsi, apalagi pada era otonomi daerah seperti saat ini. Kebijakan pemerintah pusat seringkali tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah, atau kebijakan di tingkat provinsi bertentangan dengan kebijakan di tingkat kabupaten.

Padahal kampanye kayu legal di tingkat internasional jalan terus, konsumen mulai sadar pentingnya memperoleh kayu legal, dan di kalangan produsen mulai tumbuh sikap proaktif untuk memperjelas asal-usul kayunya,tambah Yudi. Dari keadaan itu, lahirlah gagasan bar codes yang merupakan pemecahan praktis dalam menentukan legalitas kayu.

Namun ia mengakui, bar codes hanyalah sebuah langkah atau landasan menuju proses sertifikasi kayu.

Uji coba proyek bar codes.

Bar code akan disematkan pada kayu-kayu yang dipanen secara legal, yang berarti memberi sidik jari pada kayu tersebut. Tanda tersebut berisi nomor unik yang dapat dibaca dengan alat scanner yang kemudian menghubungkannya ke database informasi tentang ukuran kayu, jenis (spesies), dan asal kayu. Tanda unik tersebut hampir tidak mungkin tertukar. Selain itu, bar code juga mengikuti perjalanan sebuah kayu dari lokasi tebangan hingga ke manufaktur, membantu auditor eksternal untuk menyortir ribuan kayu dengan cepat, untuk membandingkan seluruh isi kapal pengangkut kayu atau timbunan kayu dengan database mutakhir.

Namun sebelum bar codes dilaksanakan di lapangan, program ini sekarang sedang diuji coba terlebih dulu. Uji coba atau proyek pilot yang akan berlangsung selama tiga bulan ini menelan biaya $400.000, didanai oleh British Department for International Development, US Agency for International Development (USAID), dan The Home Depot, sebuah perusahaan pengecer kayu terbesar di dunia yang berbasis di Amerika Serikat dengan 1.500 toko tersebar di AS, Kanada, Puerto Rico, dan Meksiko. Dengan dukungan dana tersebut, TNC memulai proyek demonstrasi hutan berkelanjutan dan sertifikasi kayu di kawasan seluas 500.000 acre (sekitar 82 hektar) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Jika uji coba tersebut berhasil, TNC akan melaksanakan kegiatan bar codes tersebut di seluruh Kaltim.

Uji coba proyek bar code kini sedang kami lakukan bersama dua perusahaan kayu, yaitu PT Sumalindo Lestari Jaya (SLJ) dan PT Daisy Timber, ujar Yudi Iskandarsyah. Kedua perusahan tersebut kebetulan memiliki daerah operasional yang sama dengan TNC, di Kaltim, dan mereka bersedia menerima tawaran untuk menguji coba sistem bar codes tersebut. Dalam waktu tiga bulan, mereka berasumsi akan memperoleh produksi kayu yang cukup sehingga sistem ini dapat diuji berhasil atau tidak.

Sebenarnya TNC yang mengundang kedua perusahaan kayu tersebut untuk menguji sistem yang kami kembangkan secara suka rela, imbuh Marius Gunawan, Communication Manager TNC. Dengan mengikuti uji coba ini, keduanya pun belum dikatakan apakah proses yang mereka jalankan sudah bagus atau tidak. Tetapi mereka bersedia meminjamkan tempat untuk pengujian sistem bar codes tersebut. Untuk pengujian di lapangan itu ada dua organisasi yang terlibat, yaitu SGS dan URS. Keduanya pula yang mengembangkan sistem auditnya. Setelah melewati masa diuji coba, kedua organisasi tersebut akan membuat rekomendasi apakah sistem dapat dijalankan, dihentikan, atau diperbaiki sebelum dilanjutkan.

Untuk dapat lolos dari uji legalitas, setiap kayu harus memenuhi tujuh prinsip legalitas operasi kehutanan dan prosesnya, jelas Yudi. Tujuh prinsip itu di antaranya land tenure dan hak pemanfaatan; dampak fisik dan lingkungan sosial; hak-hak masyarakat dan pekerja; peraturan dan hukum pemanenan kayu; pajak-pajak hutan; identifikasi, transfer, dan pengiriman kayu; serta pemrosesan dan pengapalan kayu. Semua kriteria inilah yang sedang kami uji di lapangan, dan masih terlalu dini untuk merangkum hasil uji coba ini.

Setelah uji coba, kami akan melihat apakah program ini dapat terus dijalankan atau tidak, dengan meminta masukan dari para pihak apa yang harus diperbaiki untuk dapat dijalankan, tambah Marius. Kalau sistem ini dapat menjawab pertanyaan tentang legalitas kayu yang ditebang, maka program ini akan dilaksanakan di lapangan, bukan tahap uji coba lagi.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.