Posted by: nandito106 | April 12, 2011

TAHUN 2010 Ke depan : Perjuangan menuju era organik

Pertanian Organik

Tempo dulu, sebelum kemunculan produk-produk ‘industrian’ para petani di Indonesia bercocok tanam dengan menggunakan bahan-bahan alam atau dengan kata lain petani telah mengenal keselarasan bertani dengan alam dan hebatnya lagi petani pada saat itu sudah pula mengerti konsep intergrasi terpadu antara usaha tani dengan usaha ternak. Hal ini menunjukkan suatu usaha tani yang berusaha meminimalisasi upaya eksploitasi berlebihan terhadap alam.

Namun pada saat itu pertumbuhan jumlah penduduk tidak sebanding dengan produktivitas pangan, seperti prediksi Robert Malthus bahwa pertumbuhan jumlah penduduk seperti deret hitung, sedangkan pertumbuhan jumlah produksi makanan seperti deret ukur. Sehingga pada tahun 70 an pemerintah mencanangkan revolusi hijau, maka muncullah produk yang namanya pupuk kimia, pestisida kimia, benih hibrida, dan ‘mesin-mesin’ usaha tani yang lain hingga terciptalah konsep intensifikasi pertanian. Mulai dari itu, usahatani dilakukan dengan input tinggi dan teknologi yang teruas dikembangkan. Swasembada beras tahun 1984 merupakan bukti keberhasilan Indonesia di sektor pertanian kala itu.

Akan tetapi, kurangnya pengawasan dan adanya penyimpangan konsistensi upaya peningkatan produksi ke arah peningkatan komersialitas semua input pertanian, ternyata memunculkan berbagai persoalan baru saat ini. Proses eksploitasi lahan pertanian tanpa ada usaha pengembalian bahan organik tanah akibat penggunaan bahan kimia yang tidak diimbangi dengan usaha pengembalian bahan organik. Persoalan lain adalah munculnya ketergantungan petani terhadap berbagai saprodi alat dan bahan pertanian yang siap saji. Sungguh ironis Betapa sebagian besar petani kita sudah beranggapan bahwa “tanpa pupuk kimia tidak ada usahatani”.

Sampai permasalahan menjadi lebih rumit ketika kita dihadapkan pula pada fakta-fakta lain yang tak kalah hebat. Pencemaran lingkungan akibat residu pupuk kimia dan pestisida, pencemaran hasil usahatani akibat residu pestisida, penurunan populasi predator, peledakan OPT yang menjadi resisten, pengerasan tanah, peledakan gulma air (kiambang, eceng gondok, dan sejenisnya) yang mengancam populasi ikan. Yang paling ditakutkan adalah pencemaran-pencemaran tersebut bisa berdampak pada manusia.

Apa juga yang terjadi seiring tahun demi tahun, produksi panen menjadi menurun, indonesia kini jadi negara pengimpor beras. Hal ini dikarenakan tidak lain adalah karena kondisi lahan pertanian kita yang semakin memprihatinkan karena akibat pengolahan lahan secara intensif tanpa memperhatikan kelestarian dan kesehatan tanah, tanpa adanya usaha pengembalian bahan organik tanah tersebut. Dengan kata lain lahan pertanian kita menjadi SAKIT. Lahan sakit, tanaman sakit, manusia nya juga bisa ikut sakit.

Solusi kedepan untuk bagi kita para petani untuk mencoba sadar bahwa kondisi lahan pertanian kita yang sudah menurun, maka mari kita mencoba sadar untuk memperbaiki tanah dengan menggunakan bahan organik. Lahan pertanian yang kini sakit, membutuhkan pemulihan dan perbaikan dengan menggunakan bahan organik sebagai bahan pembenah dan pemyubur tanah baik itu secara fisik, kimia, maupun biologis tanah. Selain itu dengan prinsip pertanian yang berkesinambungan, pemakaian bahan kimia yang terkendali dan sesuai dengan prinsip pertanian yang berselaras dengan alam, tidak menutup kemungkinan bahwa pertanian di negara ini akan pulih dan menuju puncaknya kembali.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: